Megazone

Assalamu’alaykum warahmatullah wabaraakatuh

Hallo sahabat traveler, di sini saya kembali untuk melanjutkan cerita sebelumnya, yaitu Pengalaman Terbang Bersama Sriwijaya Air. Sesampainya di Bandar Lampung, saya pun melanjutkan perjalanan saya menuju Teluk Lampung untuk hopping island. Hopping island kali ini kami akan menjelajahi Pulau Kelagian Kecil, Pahawang Kecil, dan Pahawang Besar. Perjalananan dari Bandar Lampung menuju Dermaga Ketapang di Teluk Lampung sendiri membutuhkan waktu sekitar 1 – 2 jam.

Selama di perjalanan kami sempat berhenti sebentar untuk membeli makanan. Ya, kami harus membawa bekal makan siang untuk hopping island, karena memang tidak ada penjual makanan disana. Dan jangan lupa juga guys bawa persediaan air minum yang cukup.

Selama diperjalanan pun saya cukup terkesan dengan jalan di Lampung, karena jalananya lowong banget alias gak macet sama sekali. Duh, damai dah rasanya kalau tinggal disini.


Hal tersebut tentu membuat saya sangat menikmati perjalanan, sesekali saya melihat pemandangan teluk lampung yang indah dari kejauhan. Rasanya semakin tidak sabar untuk sampai. Setelah sekitar satu jam, tak terasa jalan kian menurun dan berkelak kelok, aroma laut pun mulai tercium pertanda kami akan segera sampai. Daaan belok, yak akhirnya kami sampai di Dermaga Ketapang Teluk Lampung !

Arrived! Yuhuu!

Sesampainya kami di Dermaga Ketapang mobil yang saya naiki pun langsung mencari tempat parkir. Suasana parkiran di dermaga ini cukup lengang bahkan terbilang sepi, mungkin karena hari kerja kali ya. Menurut guide kami jika weekend tiba, parkiran bisa sampai penuh bahkan sampe keluar-luar. Tapi untuk kali ini alhamdulillah hanya tim kami yang akan berangkat untuk hopping island. Yeay!

Saya dan Mbak Shinta langsung bersiap-siap dengan segala persiapan, dan satu hal yang gak boleh dilupain untuk kita para ciwi-ciwi adalah SUNBLOCK. Ya guys, namanya juga keliling pulau dan main di pantai, apalagi tengah hari, hmm bisa kebayang gosongnya kaya apa. Selain persiapan diri sendiri, kami juga menyewa 1 perahu motor dan 2 set peralatan snorkel.

Harga sewa perahu motor disini harganya bervariasi sekitar Rp400.000 – Rp600.000 (tergantung kemampuan menawar). Sedangkan harga sewa untuk peralatan snorkel  sebesar Rp50.000,- per set. Jika tidak membawa kamera underwater atau case waterproof untuk kamera, disini kamu bisa menyewa kamera underwater seharga Rp250.000,- (sudah termasuk memori 8GB). Setelah semua persiapan selesai, waktunya berangkaat!

Suasana Dermaga Ketapang

FYI aja sih guys, sebenarnya dermaga ketapang di Teluk Lampung ini hanya pelabuhan nelayan, jadi wajar aja kalau di sini kamu gak akan lihat kapal-kapal besar. Oya, dermaga yang namanya Ketapang ternyata bukan cuma di sini aja loh, menurut guide kami sih ada 4 dermaga di Lampung yang nama Ketapang. Kira-kira kenapa ya? Mungkin karena disini banyak transmigran dari daerah Ketapang (?), bisa jadi.

Sewaktu saya menaiki perahu, saya speechles sama air disini. Karena beniiiing banget pas di pinggir dermaganya, dan pas udah kesananya warna hijau toska. Cantiiiik banget! Baru di dermaga aja airnya udah bening kayak begini. Tapi sayang, di pinggir-pinggir dermaga saya melihat beberapa sampah yang tergenang. Hmm...

Cantiknya air laut di dermaga
Oya ini bukan promosi perahu DOAI IBU ya guys *serius

Setelah semua naik, perahu motor pun melaju. Awalnya perahu ini melajunya biasa saja, tapi lama kelamaan menjadi semakin cepat. Karena saking cepatnya, rasanya pun bukan seperti berjalan diatas air lagi, tapi berjalan diatas batu wkwk. Seru lah pokoknya ! Saking serunya, itu air laut sampe nyiprat-nyiprat ke mulut guys, nah kalau kayak gini jangan lupa siap-siap mingkem yak. Hohoo

Jika langit cerah, diperjalanan kamu bisa melihat beberapa pulau yang jauh seperti Pulau Sebuku dan Sebesi (yaitu pulau terdekat dari anak krakatau).
Coba tebak, itu pulau apa ya?

Oya, biasanya pulau yang akan pertama kali dituju saat hopping island adalah Pulau Kelagian. Hal tersebut karena pulau ini dapat ditempuh hanya dengan 10 menit perjalanan motor cepat (dari Dermaga Ketapang).

Sebenarnya disini terdapat Pulau Kelagian Besar dan Pulau Kelagian Kecil, dimana kedua pulau ini saling berhadapan. Tapi saya kebetulan hanya berkesempatan untuk mengunjungi Pulau Kelagian Kecil (lunik), karena sebenarnya karakteristik kedua pulau ini tak jauh berbeda, hanya beda ukuran saja.


Menurut guide kami, sebagian besar wilayah Pulau Kelagian Besar digunakan untuk tempat latihan marinir, tapi masih ada bagian yang memang khusus untuk wisata. Nah, kalau Pulau Kelagian Kecil, pulau ini memang sesuai namanya guys, kecil. Kita bisa memutari pulau ini dengan berjalan kaki hanya dalam waktu 30 menit. 

Pulau Kelagian Kecil adalah pulau yang tak berpenghuni, dimana hanya ada beberapa saung dan dua warung kopi yang pemiliknya pulang pergi. Disini tak ada penginapan, tapi jika malam tahun baru banyak orang yang mendirikan tenda disini. Tapi.. ingat ya guys disini tidak ada kamar mandi, hanya ada ruang ganti pakaian. Jadi kalau mau pipis, langsung ke laut aja ya..wkwk

Hmm. Kayaknya gak seru ya kalau cuma di ceritain gitu aja. Oke sekarang saya akan menceritakannya dengan lebih jelas. Awalnya ketika sampai di pulau ini saya begitu kaget dan terpesona, karena gradasi warna laut sangat terlihat jelas. Baru pernah saya melihat pemandangan yang seindah ini secara langsung.

Gradasi warna laut sungguh memukau, mulai dari biru tua, biru muda, toska, toska muda, sampe bening. Dan beningnya itu guys, Masyaa Allah ! Wajah dia mah kalah deh beningnya ! Bening banget.


Here I'm wait for you~

Gak ngerti deh kata apa lagi yang bisa ngejelasin keindahan yang ada di pulau ini. Keindahannya tuh bener-bener ngebekas di hati dan kamera guys ! biarpun potografer amatir kalau motret disini tuh tetep aja hasilnya.. tak terlupakan lah.


Selain pemandanganya yang mempesona dan air laut yang bening, pasir disini juga putih, bersih, dan lembut banget. Awalnya sempet gak percaya karena beberapa tulisan diblog orang bilang kalau pasir disini mirip tepung terigu. Tapi masa iya sih, eh ternyata pas diliat, ternyata bener juga ya. Tapi bagi saya sih ini lebih mirip susu danc*w vanila bubuk. Abis enak gitu diliatnya, jadi pengen digadoin (loh?)

Pasirnya lembut, selembut hatiku~ eww

Setelah puas menikmati keindahan depan pulau, waktunya kita keliling pulau yeah ! Pulau ini dikelilingi oleh pohon mangrove, dimana mangrove berfungsi untuk mencegah  abrasi dan sebagai rumah bagi ikan ikan kecil.

Di belakang pulau ini ternyata terdapat pula pantai, hanya saja memiliki karakteristik yang berbeda dengan pantai yang berada di depan. Pantai di sini sebagian besar berbatu, kontur tanah di tepi laut dan pinggirnya pun juga berbatu. Meskipun demikian, sama sekali tidak mengurangi keindahan pantai ini. Indah banget!

Batu boleh hitam, tapi pasir tetap putih
Masa lalu boleh kelam, tapi masa depan masih suci *haseek

Jangan mikirin aku mbak~

Setelah puas berkeliling, kami sebenarnya menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Pulau Pahawang dan bersnorkel disana. Hingga pada akhirnya balik lagi ke pulau ini (karena ketagihan), untuk bersnorkel dan bermain menghabiskan waktu sampai sore.

Saya dan mbak Shinta bersnorkel di perairan pulau Kelagian Kecil saat sudah menjelang sore, jadi arus dan gelombang sudah cukup lumayan. Terlebih karena kami menggunakan pelampung, jadi sangat mudah terbawa arus. Guide kami pun cukup kwalahan saat menjaga kami berdua. Megangin yang satu, satunya lagi kemana. Megangin yang satu lagi, yang satu lari kemana, wkwk maaf ya pak.

Beliau juga khawatir kalau kami semakin terbawa gelombang dan bertemu ular laut. Hoo, iya guys di bagian tenggara hingga selatan pulau ini ada sarang ular laut. Jadi hati-hati ya.. Akhirnya Pak Yopie pun memegang pelampung mba shinta dan menarik kaki katak saya, menyuruh untuk segera selesai.

Sebenarnya dari lubuk hati saya yang paling dalam *cielah, saya pengen banget ketemu sama ubur-ubur, atau hewan yang kalau beruntung bisa ditemuin disini (penyu hijau dan pari bintik biru). Tapi mungkin saya belum beruntung, dan harus merasa cukup dengan hanya bertemu clown fish serta ikan-ikan (yang entah apa namanya).


Spoiler for Pari bintik biru
Source : yopiefranz.com

Mau dong di dadahin sama ikan nemo~
Source : yopiefranz.com

Wahai ikan, sebutkanlah siapa namamu
Source : yopiefranz.com

Akhirnya setelah snorkeling, kami pun kembali ke Pulau Kelagian Kecil. Di sini saya dan mbak Shinta melakukan berbagai aktivitas seperti bermain pasir, ayunan, menikmati suasana, dan yang paling wajib adalah bermain air. Hohoo. Meskipun sudah snorkel, tapi rasanya belum afdhol aja gitu kalau belum berenang-renang dipantai. Air disini asin sih, tapi dingin dan bening, seger lah pokoknya. 

Masa kecil kita bahagia kok, serius deh

Saking bahagianya, udah gak bisa kontrol muka lagi

Jam sudah menunjukkan waktu 4 sore, sudah waktunya kami untuk kembali ke dermaga. Selesai sudah perjalanan kami untuk hopping island kali ini, waktunya kembali ke tempat peraduan. Semoga bisa kembali kesini untuk hopping island ke pulau lainnya seperti Pulau Balak, Lok, Lunik, Mengkudu, Tanjung putus, dan pulau lainnya.

Sampai jumpa lagi Teluk Lampung~


Wassalamu'alaykum warahmatullah wabarakaatuh

Ke tempat peraduan yang selanjutnya : Pengalaman menginap di Whiz Prime Lampung

Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh
Kali ini saya akan memposting mengenai kisah hidup saya mengenai mempelajari Al Qur’an. Mungkin kisah ini bisa sedikit menginspirasi, jika pun tidak saya hanya ingin membaginya untuk kalian para pembaca. *salam hangat

So, langsung aja..

Seberapakah pentingnya mempelajari Al Qur’an? Tentu penting sekali, bahkan lebih penting dibanding program belajar 12 tahun. Karena ini adalah program belajar seumur hidup. Bukan hanya sekedar belajar membaca atau menghafalnya, tapi juga mengerti makna dan tafsirnya. Saya sendiri baru mendapat kesempatan untuk mempelajari cara membaca Al Qur'an sesuai dengan kaidah. Tentunya saya berharap bisa mendapat kesempatan belajar yang lebih dalam lagi.

Oke, jadi saya hanya ingin mengulik sedikit mengenai belajar membaca Al Qur'an. Sebenarnya apa sih tujuan kita belajar membaca Al Qur’an? tentunya hal tersebut bertujuan untuk menjaga lidah agar tidak salah dalam membaca Al Qur’an. Jika kita salah dalam mengucapkannya, maka resiko yang paling besar adalah dapat merubah arti (lahn jali) dan menyebabkan dosa. Sangat berlainan bukan dengan niat membaca Al Qur’an itu sendiri?

Maka dari itu, mempelajari Al-Qur’an itu sangat lah wajib.  Seperti yang tertuang dalam perkataan Imam Ibnul Al Jazari :

“Membaca Al Qur’an dengan tajwid itu hukumnya wajib. Siapa yang tidak membetulkan bacaan Al Qura’annya berdosa. Karena Allah menurunkannya dengan tajwid. Dan demikianlah Al Qur’an dari-Nya sampai kepada kita”.

Lewat perkataan ini, normalnya ada beberapa pertanyaan yang musti kita tanyain ke dalam diri kita sendiri..
Apakah bacaan kita sudah sesuai tajwid?
Apakah kita sudah mengeluarkan hurus sesuai makhrajnya?
Apakah kita sudah memenuhi sifat2 huruf dan hukumnya?

Ya guys, Belajar membaca al quran tidak hanya sebatas saat kita masih kecil saja. So, jangan sombong dengan mengatakan bahwa kita sudah bisa membaca alquran. Ilmu itu luas guys.. banyak sekali ilmu-ilmu tentang cara membaca dan mempelajari Al Qur'an di luar sana.

Jangan sampai kayak saya waktu dulu.
Karena sewaktu dulu ketika di TPA, saya adalah orang yang sangat tidak suka dengan pelajaran tajwid. Karena menurut saya tajwid itu ribet, kalau ini ketemu ini jadi begini, itu ketemu ini jadi begini, males deh pokoknya.

Semoga kamu gak gitu ya..
Saya tidak sadar, bahwa ketidak sukaan itu tertanam dalam pikiran bawah sadar saya dan terus berlanjut hingga saya remaja.

Memalukan memang, mungkin diantara kalian ada yang beruntung sudah memahami ilmu tajwid sejak kecil. Tapi saya, sampai SMP pun saya masih sebal jika ada pelajaran tajwid, yang saya tahu sedikit. Meskipun tau cara membacanya, namun terkadang lupa namanya, dan bagaimana penjelasannya. Pokoknya saya gak suka, dan yaudah gitu aja.

Ya, tapi itu saya dulu.
Mungkin memang benar, benci dan cinta itu sangat tipis bedanya. Dan kecintaan itu pun berawal saat saya beranjak SMK. Saat itu mulai terbesit di hati saya ingin belajar tajwid, tapi masih agak males – malesan. Terkadang saya meminta diajarikan oleh mama saya, tapi karena mama saya ngejelasinnya ribet jadi saya tambah males, waduh.  *biasalah balada remaja

Tapi terbesit keinginan kuat ketika saya sering menonton program Tv Hafidzh Indonesia. Saya ingin menjadi seperti itu, saya ingin anak-anak saya juga seperti itu. Tapi ya timbul pertanyaan juga dalam hati saya, gimana bisa kayak gitu kalau saya sendiri aja macem begini (?) 
Bukankah seperti punuk yang merindukan bulan(?)

Akhirnya, mulailah saya melakukan pencarian mengenai tempat belajar membaca Al Qur'an, ada LTQ yang di jalan raya bogor, ada juga yang di kalisari, banyaklah pokoknya. Namun saya merasa masih kurang pas, karena lokasinnya terlalu jauh dari jangkauan kampus. (karena saya khawatir jadwal tahsin dan jadwal kuliah ada yang mepet)

Pencarian dilakukan cukup lama, sampai akhirnya saya di pertemukan oleh sebuah lembaga tahfidz Qur’an bernama Al Utsmani. Waktu itu LTQ tersebut baru membuka cabang di Bekasi, dan kebetulan lokasinya sangat dekat dengan kampus saya (tidak sampai 1 kilometer). Memang, Pucuk di Cinta Ulam pun Tiba *tsaah.

Akhirnya pada saat itu saya resmi menjadi murid di LTQ AlUtsmani Bekasi. Ketika itu saya telah berusia 19 tahun (saat sedang kuliah tingkat 2). Telat sekali bukan? Tapi seolah seperti kata pepatah, “Tak Pernah Ada Kata Terlambat Untuk Belajar” maka begitu pula dengan saya.

Saya juga mungkin sedikit malu, karena ustadzah yang mengajar saya ternyata umurnya sebaya dengan saya. Hanya saja beliau sudah hafal 30 juz sedangkan saya.. juz 30 aja belum semua hafal -_- haduhh. Meski demikian rasa malu itu menjadi cambuk bagi diri saya sendiri untuk lebih baik lagi.

Satu hal yang cukup membuat saya terkesan adalah, ada seorang ibu-ibu dimana usianya telah lebih dari 60 tahun. Namun ia sangat semangat, meski harus memulai dari awal program (level 1). Dia menegaskan bahwa dia tidak malu meski di level 1, karena niatnya adalah belajar.

Tentu, sebagai anak muda kata-kata itu sangat membakar saya. Saya tidak ingin kalah semangat dengan beliau. Namun sayangnya, baru 2 semester berjalan beliau (rahimahullah) sudah dipanggil oleh Sang Khalik. Semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.

Waktu terus berlalu, kini saya sudah 5 semester di LTQ tempat saya belajar. Saya sangat senang karena masih diberi kesempatan hingga saat ini untuk belajar disini. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda ingin bersama-sama mempelajari Al Qur'an dengan saya? Yuk, tunggu apalagi.. usia kita semakin hari semakin bertambah, malu sama Allah udah dikasih waktu hidup selama puluhan tahun masa baca Al Qur'an dengan benar aja gak bisa. *jleb

Yuk belajar membaca Al Qur'an, biar kita menjadi sebaik-baik manusia. 
Rasulullah Salallahu alaihi wassalam bersabda :
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)

Semoga Allah memudahkan saya dan kamu untuk menuntut ilmu di jalan-Nya. Dan semoga hati kita terpaut selalu kepada Al Qur’an. Aamiin.

Ayo teman-teman jangan lupa untuk terus mempelajari Al Qur’an, cara membacanya, maknanya, tafsirnya, dan jangan pernah puas dalam belajar.
Karena ilmu itu luas~


Sekian dulu ya, wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh

Teluk Kiluan adalah salah satu itinerary trip wajib saya selama berada di Lampung. Mengapa demikian? Karena spot ini terkenal dengan lumba – lumbanya. Sebelum berangkat saya googling dulu mengenai apa saja yang ada di Teluk Kiluan, ternyata spot lumba – lumba ini lah yang paling terkenal. So, harapan besar saya ketika datang ke teluk ini adalah bertemu lumba – lumba.

Saya berangkat dari Bandara Radin Inten II menuju Teluk Kiluan sekitar jam 2 siang. Tentu saya tidak sendiri, saya bersama ke dua patner trip saya yaitu Mba Shinta dan Pak Hendra, serta guide handal kami Pak Yopie. Menurut Pak Yopie, jarak dari Bandar Lampung ke Teluk Kiluan sekitar 80 Km, yang dapat ditempuh dalam waktu 3 jam. Kondisi jalan 80% baik, dan sisanya.. bisa dilihat sendiri nanti. Begitulah kata beliau.

Sebelumnya kami pun diingatkan bahwa di cottage yang akan kami tempati belum di aliri listrik, disanapun tidak ada sinyal, dan warung. So, ketika kami di Bandar Lampung kami mampir sebentar di mini market daerah Hanura, untuk membeli persediaan air minum dan makanan kecil. Sebenarnya setelah di pikir – pikir, membeli makanan kecil seperti ini tidak perlu terlalu berlebihan, karena disana pun penyedia cottage sudah menyediakan makan dan minum.

Selama  di perjalanan kami sempat berhenti – berhenti sebentar seperti untuk ke minimarket, berfoto di pinggir Pantai Klara, dan sholat ashar. Sehingga waktu yang kami butuhkan menjadi lebih dari 3 jam. Selama di perjalanan kami pun menikmati pemandangan yang sangat indah. Tapi sayangnya tidak bisa setiap pemandangan indah lalu berhenti untuk berfoto. So kenangan indah tersebut hanya bisa saya simpan dalam memori kenangan yang indah saja, ciaa.

Potret keindahan Pantai Klara dari pinggir jalan

Setelah melewati jalan yang bisa dibilang cukup mulus, mulailah kami mengalami sedikit guncangan – guncangan. Mungkin inilah 20 % yang di bilang Pak Yopie tadi. Estimasi 20 % pun tidak full seluruhnya buruk, jadi ada sebagian jalan rusak, lalu bagus, lalu ada yang rusak lagi, lalu bagus lagi, dan seterusnya.

Kondisi jalan yang cukup mulus

Kondisi jalan yang becek dan berlubang

Namun menurut beliau jalan ini sudah lebih baik dibanding dulu, kini jalan menuju Teluk Kiluan sudah banyak yang diperbaiki pemerintah provinsi. Selama di perjalanan, saya pun melihat jalan yang sedang dicor beton tapi baru sebagian. Oya, jalan menuju Teluk Kiluan mungkin akan cukup sulit bagi Anda yang kurang mahir dalam menyetir mobil, dan yang penting lebih baik jangan membawa mobil jenis sedan kemari.

Karena sebagian jalan berlubang, becek serta licin, dan sebagian lagi merupakan jalan berbatu. Ketika jalan berbatu pun jalanannya mulai menanjak. Rasanya seperti menaiki gunung (walaupun entah gunung entah bukit), tapi yang jelas menurut saya lumayan susah nyetir mobil disini (terutama untuk saya yang gak bisa nyetir). 

Kondisi jalan berlubang dan berbatu

Meskipun jalan rusak dan kami terguncang – guncang, tapi kami melihat bulan yang indah sekali. Mobil pun berhenti sebentar untuk mengabadikannya. 


Salamku untuk sang rembulan

Setelah melewati jalan berbatu tadi, sampailah kami di gapura Teluk Kiluan. Kami datang diwaktu yang cukup sore (sekitar jam 5), sehingga  langit tidak terlalu cerah untuk berfoto. Tapi dari sini kami sudah bisa melihat keindahan Teluk Kiluan yang waaww.

Gapura Teluk Kiluan

Setelah masuk gapura, jalan kembali mulus dan kami pun menemukan beberapa kampung seperti kampung Bali dan kampung Sunda. Sesuai dengan namanya, disini saya dapat melihat banyak rumah khas daerah – daerah tersebut. Akhirnya sampailah saya di Dusun Bandung Jaya, ketika itu langit sudah mulai membiru pekat. Mobil kami pun parkir di salah satu lahan milik warga, dan kami melanjutkan perjalanan menuju cottage dengan perahu kecil/jukung.

Kondisi ketika itu cukup gelap, bahkan sangat gelap ketika berada di tengah lautan. Sehingga saya tidak bisa mengabadikan momen tersebut. Sebagai gantinya, saya hanya menikmati momen berada ditengah lautan yang gelap gulita. Semilir angin, aroma laut, dan gelombang yang membuat jukung kami bergoyang, membuat perjalanan saya terasa semakin menyenangkan.

Sesekali kami juga melihat jukung lain yang digunakan untuk mencari ikan, ada yang tidak menggunakan lampu (seperti jukung kami), dan ada juga yang menggunakan lampu. Dari kejauhan kami melihat sebuah tempat yang lebih terang karena terdapat lampu, dan disanalah cottage kami. Meskipun belum dialiri listrik, namun penyedia cottage menyediakan genset yang hanya digunakan saat malam. So, saya ga perlu takut akan gelap – gelapan disini. Hihi


Cottage di Anjungan Tamong Haji

Cottage yang saya tempati pun terbilang cukup luas, terdapat ruang tamu, kamar mandi di dalam, dan 2 kamar tidur ( 1 kamar berisi 1 bed, dan 1 kamar lagi berisi 2 bed). Meskipun sederhana, tapi menurut saya tempat ini cukup nyaman. Setelah merapikan barang bawaan dan membersihkan diri, kami pun disuguhkan makan malam.

Makan malam kali ini bermenu nasi hangat, kangkung, ikan lemadang bakar yang wow besarnya, sambal, kerupuk, dan air putih. Makan malam ini sederhana, tapi sungguh terasa nikmat. Kami pun merasa senang karena ikan lemadang ini sangat enak.

Ikan lemadang yang besarnya lebih besar dari piring ukuran besar

Kami kenyang, kami senang

Setelah makan malam, kami pun duduk – duduk di pinggir pantai untuk sekedar ngopi/ngeteh. Suasana malam di pinggir pantai cukup gelap, namun angin  dan suara deburan ombak yang cukup kencang, membuat suasana malam begitu syahdu. Setelah cukup malam, kami pun memutuskan untuk beristirahat karena besok pagi – pagi akan melanjutkan misi utama, yaitu mencari lumba – lumba.

Keesokan harinya jam setengah 6 kami sarapan, menu sarapan kali ini adalah nasi uduk hangat, gorengan, sambal, kerupuk, dan teh hangat. Hmm, nikmatnya.. Setelah sarapan kami langsung bersiap menuju perairan laut lepas menggunakan perahu kecil yang biasa disebut jukung/ketinting.

Bersiap menggunakan jukung

Meskipun perahu ini kecil dan ramping, namun nyatanya perahu ini cukup tangguh. Tidak perlu khawatir saat menggunakan jukung ini, ujung jukung yang lancip berfungsi untuk membelah gelombang. Sehingga bisa dikatakan kapal ini lebih aman untuk menuju laut lepas, di banding perahu motor yang berukuran sedikit lebih besar.

Untuk menuju perairan laut lepas, jukung tidak boleh di naiki lebih dari 3 penumpang, maksimal jukung dinaiki oleh 4 orang (3 penumpang dan 1 pengemudi). Karena kami ber-4 maka kami menggunaan 2 jukung, saya dengan Pak Hendra, sedangkan Mba Shinta dengan Pak Yopie. Saya sengaja duduk di paling depan untuk merasakan sensasi gelombang yang lebih terasa. Perjalanan pun dimula!

Ready and go!

Benar saja, duduk paling depan menggunakan jukung bisa dibilang sangat seru. Gelombang yang membuat perahu bergoyang pun membuat saya sedikit kesulitan saat menggunakan kamera. Sesekali saya melihat ombak memecah bebatuan karang yang sangat indah. Setelah melaut sekitar 30 menit sampailah kami pada tempat dimana lumba – lumba sering muncul. Jukung kami mulai berjalan pelan.

Setelah beberapa saat saya mulai menengok kesana kemari dengan harapan melihat lumba – lumba. Kamera baru saja dinyalakan, sambil mengarahkan kamera ke arah depan, pak Hendra dan pengemudi perahu teriak “Itu..itu..” saya hanya berkata, “mana.. mana..?” sambil kamera di arahkan entah kemana. Ternyata ada lumba – lumba disebelah kanan tapi saya tidak melihatnya. Haduh, payah juga ya saya.

Kemudian saya fokus memperhatikan sebelah kanan (tempat lumba – lumba tadi), di sebrang kanan pun terdapat jukung wisatawan yang juga sedang mencari lumba. Saat saya sedang memandang ke arah kanan, orang-orang yang berada di jukung sebrang kanan saya tiba – tiba berteriak. “Aaaaa!” sambil nunjuk ke arah jukung yang saya gunakan.

“Itu mega...” Kata Pak Hendra, ternyata lumba – lumba nya ada di sebelah kiri jukung saya, yang kata Pak Hendra dekat sekali dengan jukung kami. Haduuuh, sedih banget nih saya belum bisa liat lumba – lumba langsung padahal orang lain udah teriak – teriak.

Akhirnya mata saya siap siaga, menengok ke arah depan, samping kiri, samping kanan, dan juga sesekali belakang. Kamera stand by siap memotret jikala lumba – lumba itu datang. Yak! Itu dia lumba – lumbanya! Berada sedikit jauh di depan serong kanan saya, tapi pas saya baru mencet tombol shutter, eh ternyata dia udah hilang duluan. Duh, ternyata susah juga ya mau foto lumba – lumba.

Gagal bidik dia (lumba-lumba)

Beberapa kali saya melihat sirip lumba – lumba yang muncul ke permukaan, namun sayangnya kamera saya tidak secepat gerakannya. Saya pun tidak melihat ada lumba – lumba yang loncat ke permukaan, hanya siripnya saja. Akhirnya saya harus puas dengan tidak mendapatkan satupun foto lumba – lumba. Tapi untungnya Mbak Shinta dapat videonya, dan Pak Yopie dapat foto yang cantiiik banget (wajar karena beliau adalah fotografer). Kalau Pak Hendra (?) Hmm, jangan ditanya karena kameranya mati ketika di perjalanan, wkwk.


Sedikit sedih memang, namun karena ini adalah lumba – lumba di alam liar, tak ada satupun yang bisa menjanjikan pasti bertemu. Bisa dikatakan ini adalah soal keberuntungan, ada yang melihat ratusan, ada yang melihat hanya beberapa, dan bahkan ada yang tidak melihat sama sekali. Maka kami cukup bersyukur bisa bertemu lumba – lumba meskipun mereka agak sedikit malu – malu.

Menurut Pak Yopie, beliau pernah satu kali melihat ratusan bahkan ribuan lumba – lumba. Cuaca pun tidak bisa di predikisi, karena Pak Yopie melihatnya ketika sedang gerimis. Saya sendiri hanya bisa membayangkan bagaimana jika melihat lumba – lumba penuh di samping kiri, kanan, depan dan belakang. Pasti takjub luar biasa.

Kami pun bergegas kembali. Saat perjalanan pulang, kesedihan saya sedikit terobati karena pengemudi jukung kami berjalan sedikit mendekat pesisir teluk. Sehingga saya bisa melihat jelas ombak yang menghempas bebatuan di pesisir. Indaaah banget, sepertinya pengemudi jukungnya mengerti perasaan sedih saya. Gak ada sedikit pun perasaan sesal buat dateng ke Kiluan, yang ada mau balik lagi.


Indahnya Teluk Kiluan

Mungkin untuk bertemu lumba – lumba disini tak cukup hanya sekali datang, tapi harus berkali – kali. Semoga saya bisa berkesmpatan berkunjung lagi kemari, dan tentunya membawa kamera yang 1 detik bisa 4 kali foto biar gak kehilangan moment. Hihi.
Lumba – lumba! See you next!
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Bayi Botol
  • Tanda Cinta untuk yang Tercinta - Bag.2
  • Tentang Pacaran
  • Tanda Cinta untuk yang Tercinta - Bag.1
  • Berbicara Tentang "CINTA"
  • Ujian.. oh.. Ujian..
  • The Best
  • A message
  • Tentang Mengingat Allah
  • Sebut saja 'CINTA'

Categories

  • Ceritanya Mega 12
  • Days Writing Challenge 11
  • Opini 10
  • Puisi 18
  • Traveling 13

Advertisement

Contact form

Nama

Email *

Pesan *

Profil

Mega Teduh
Assalamu'alaikum warahmatullahi waabarakaatuh. Halo perkenalkan saya mega, selama datang di blog saya yang sederhana ini. Keseharian saya bekerja di bidang laboratorium, dan sempat menjadi content creator di bidang traveling. Untuk saat ini saya hanya menulis untuk diri saya sendiri, dan tulisan saya meliputi perjalanan wisata dan perjalanan kehidupan. Selamat menikmati
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ▼  2026 (2)
    • ▼  Mei (1)
      • Life update
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2024 (2)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2023 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2020 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (3)
  • ►  2017 (15)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2014 (11)
    • ►  November (1)
    • ►  Juni (10)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2012 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
Diberdayakan oleh Blogger.
  • Beranda
  • My Traveling
  • Days Writing Challenge
  • Ceritanya aku
  • Puisi
  • Opini

Popular Posts

  • Cerita Hari Ini
  • Jadi, kapan nikah?
  • Spill Budget Pendakian Rinjani
  • Pendakian Merbabu Via Suwanting

Profil Saya

Assalamu'alaikum warahmatullahi waabarakaatuh. Halo perkenalkan saya mega, selama datang di blog saya yang sederhana ini. Keseharian saya bekerja di bidang laboratorium, dan sempat menjadi content creator di bidang traveling. Untuk saat ini saya hanya menulis untuk diri saya sendiri, dan tulisan saya meliputi perjalanan wisata dan perjalanan kehidupan. Selamat menikmati
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

  • ▼  2026 (2)
    • ▼  Mei (1)
      • Life update
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2024 (2)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2023 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2020 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (3)
  • ►  2017 (15)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2014 (11)
    • ►  November (1)
    • ►  Juni (10)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2012 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi