Cerita Hari Ini

 Senin, 19 Januari 2026

Bismillah,

Sebuah tulisan yang dibuat untuk menjadi pengobat dikala lelah dan sebuah pengingat untuk senantiasa bersyukur terhadap nikmat-nikmat Allah.

Hari ini adalah hari senin yang Nyenin banget. Senin yang S nya itu SUPER PADET. Dari macet normal, macet abnormal, sampai mobil nabrak separator. Qadarullah wa maa syaa fa’al.

 

Biasanya jarak antara rumah – kantor itu 45 menit, semacet-macetnya itu yaa 1 jam-an. Tapi hari ini qadarullah lebih dari 1,5 jam.. macet sepanjang jalan, dan kaki ini rasanya sakiiit banget hahaha ngeluh sedikit gapapa yaa

 

Jujur hari ini pengen banget kerja sambil duduk, tapi karena aku sampling pasien jadi pasti berdiri. Rasanya kaki sakit, capek, pegel, tapi entah kenapa rasanya ga ada apa-apanya setelah aku denger cerita beberapa pasien hari ini.

 

Pertama, seorang ibu hamil

Seperti biasa aku melayani seorang pasien ibu hamil. Sambil pelayanan, ibu tersebut tiba-tiba cerita “Mba, tau ngga ini adalah kehamilan yang aku tunggu-tunggu selama 15 tahun”. Aku terkaget sambil bertanya “Masyaa Allah.. Alhamdulillah yaa bu.. ibu program atau gimana bu?”

 

“Saya sebenernya udah pasrah, dulunya iya usaha kesana-kesini tapi akhirnya yasudalah gitu. Sampai akhirnya saya ikutin saran di tiktok, minum vitamn D3 1000 IU, Asam folat sama Zinc. Pas saya mau beli vitamin yang ke 2, alhamdulillaah ternyata saya udah garis dua”

“Maasyaa Allah.. Alhamdulillaah”

“Tapi mba, saya udah ketuaan ya..” tanya ibu tersebut sepertinya khawatir

“Ibu, kalau Allah takdirin ibu hamil sekarang, berarti sekarang adalah waktu yang tepat. Insyaa Allah.. Semoga Ibu sehat terus yaa.. aamiin”

 

Sebagai orang yang belum menikah, aku ga pernah ngebayangin gimana jadi si Ibu, penantian buah hati selama 15 tahun itu sudah pasti bukan waktu yang sebentar. Dan aku ga pernah tau apa yang dialami Ibu tersebut selama masa penantiannya. Pasti disana terdapat banyak air mata, doa dan harapan yang disertai rasa sabar.

 

Semoga Allah menjaga Ibu dan janin, semoga Allah berikan keberkahan dan Allah jadikan anaknya shalih/shalihah. Aamiin

 

Kedua, Seorang Ibu dan anaknya

Beberapa kali aku melihat seorang ibu menggendong anaknya yang masih kecil bolak-balik di depan laboratorium gelisah menunggu antrian. Pasien hari ini memang sangat ramai, sampai akhirnya aku memanggil  sebuah nama dan ibu tersebut akhirnya masuk.

 

Sambil menyapa, aku berkata

“Oalaah, ibunya yang mau diambil darah yaa.. kirain dedenya..”

“Iya sus, dedenya mah abis di operasi”

“Operasi apa bu?” – “operasi tumor sus..” kemudian ibunya menunjukan sebuah foto tumor anaknya yang mungkin sebesar buah melon.

 

Kemudian aku bertanya tentang bagaimana perjalanan tumor dede tersebut bisa sampai sebesar itu, dan itu bukan perjalanan yang mudah baik bagi orang tua maupun sang anak. Dari RS besar satu ke RS besar lain, diagnosis ulang, pengiriman sampel ke luar negeri, pilihan operasi dan amputasi, pilihan kemoterapi.

 

Anak tersebut baru 17 bulan, bahkan belum genap 2 tahun. Tapi sudah mengalami berkali-kali kemoterapi, transfusi darah, dan pada akhirnya  pengangkatan tumor.. Bahkan ibu tersebut cerita bahwa tumor sang anak sudah metastasis ke daerah dada dan akan menjalani CT scan dalam waktu dekat. Mendengarnya saja rasanya tidak tega, apalagi melihat dan menjalaninya secara langsung sebagai seorang ibu.

 

Tapi aku tidak melihat keluh dari wajah sang Ibu, yang terlihat hanya seorang ibu yang kuat dan tegar. Kesedihannya mungkin sudah habis, yang tersisa hanyalah secerca kekuatan dan harapan untuk sang anak.

 

“Rabbana afrigh alaina shabran”

 

Ya Allah.. berikanlah kemudahan, kesabaran dan kekuatan bagi Sang Ibu dan Anaknya. Berikanlah kemudahan, kesabaran dan kekuatan bagi orang yang sakit dan para care giver yang mendampinginnya. Sesungguhnya pahala sabar tanpa batas dari sisi Mu yaa Rabb..

 


Pelajaran yang Allah kasih hari ini adalah, semua manusia di uji dengan kadar ujiannya masing-masing. Ada yang ujiannya lebih berat, tapi tidak seberisik kita. Mereka yang diam, mungkin ujian mereka lebih berat, tapi mereka memilih menjalaninya dengan sabar.

 

Teringat sebuah pesan:

Berlemah lembutlah kepada orang lain, karena sebagian dari mereka menderita dengan lika-liku kehidupan. Sedang engkau tak mengetahuinya.

 

Ya Allah terima kasih atas hikmah yang telah Engkau berikan hari ini, dan Alhamdulillah atas segala nikmat yang telah Engkau berikan hari ini, nikmat sehat, nikmat waktu luang, nikmat bisa memakan makanan yang lezat, meminum air yang bersih lagi dingin, nikmat lingkungan yang baik, nikmat rumah untuk berteduh, nikmat negeri yang aman, dan semua nikmat yang tidak bisa dihitung.

Alhamdulillahiladzi bi ni’matihi tatiimusshalihaat

 

Cerita ini mungkin hanya cerita harian biasa, yang juga biasa ditemui para tenaga kesehatan lainnya. Tapi aku menulisnya agar aku bisa mengingat hal-hal sederhana yang bisa disyukuri.

------

(Editing)

 Setelah tulisan ini diunggah di hari Senin, 19 Januari 2026 Pukul 21.17, tidak lama kemudian aku menerima telpon dari seorang sahabat dekatku, Rizky.

“Ka.. baca WA aku”

Setelah aku membaca pesannya, rasanya seperti tersambar petir ditengah terik matahari. Sebuah kabar duka, telah berpulangnya suami dari seorang sahabat dekat kami, Juwita. Innalillahi wa innailaihi roji’un.. Rasanya sangat terkejut, dan tidak percaya. Qadarullah wa maasyaa fa’al. Malam itu juga aku bergegas menuju ke rumah duka.

 

Ku lihat sosok sahabatku yang berusaha untuk tegar dan bersabar, ia duduk disamping jenazah suaminya, menyalami sambil memberi senyum kepada orang-orang yang datang. Sesekali air matanya tumpah, kemudian jika matanya sudah memerah ia kembali  cuci muka atau berwudhu.

 

Kami sahabat dekat, rekan kerja,  rasanya sudah seperti saudara. Jika ada salah seorang tertimpa musibah, hati kami merasa sangat sakit. Tidak terbayang betapa hancurnya peraasaan sahabat kami, disana ada seorang istri yang kehilangan suaminya, seorang anak balita yang kehilangan ayahnya, ibu yang kehilangan anaknya. Air mata ini hampir  tumpah, tapi kami tidak ingin membuat ia semakin menangis.

Allahummagfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa fu’anhu

Semoga Allah terima amal ibadahnya, semoga Allah lapangkan dan terangi kuburnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran, dan ketabahan.

Aamiin Yaa Rabbal ‘alamiin

 

Hari ini bukan hanya memberi pelajaran untuk senantiasa bersyukur dan bersabar, namun juga pengingat bahwa bisa jadi kematian itu ada di pelupuk mata. Semoga Allah tolong hambaNya yang lemah ini untuk senantiasa memperbaiki keimanan dan ketaqwaan, semoga Allah liputi hambaNya yang penuh dosa ini dengan ampunan dan kebaikan.

 

Aku menjadi teringat, bahwa cita-cita ku setelah haji adalah meninggal di Kota Madinah, di sholatkan di Masjid Nabawi di hari Jum’at setelah Shalat Jum’at dan di kubur di pekuburan baqi’. Tapi rasanya apa yang aku lakukan selama ini seolah lupa dan jauh dari apa yang aku cita-citakan.

Waktu kita mungkin tidak banyak. Semoga Allah beri taufiq, semoga Allah tolong kita untuk senantiasa memperbaiki keimanan dan ketaqwaan di waktu yang tersisa ini, dan semoga Allah beri kita akhir kehidupan yang baik.

Aamin Yaa Rabbal ‘alamiin 

0 Comentarios