Megazone


Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh
Kali ini saya akan memposting mengenai kisah hidup saya mengenai mempelajari Al Qur’an. Mungkin kisah ini bisa sedikit menginspirasi, jika pun tidak saya hanya ingin membaginya untuk kalian para pembaca. *salam hangat

So, langsung aja..

Seberapakah pentingnya mempelajari Al Qur’an? Tentu penting sekali, bahkan lebih penting dibanding program belajar 12 tahun. Karena ini adalah program belajar seumur hidup. Bukan hanya sekedar belajar membaca atau menghafalnya, tapi juga mengerti makna dan tafsirnya. Saya sendiri baru mendapat kesempatan untuk mempelajari cara membaca Al Qur'an sesuai dengan kaidah. Tentunya saya berharap bisa mendapat kesempatan belajar yang lebih dalam lagi.

Oke, jadi saya hanya ingin mengulik sedikit mengenai belajar membaca Al Qur'an. Sebenarnya apa sih tujuan kita belajar membaca Al Qur’an? tentunya hal tersebut bertujuan untuk menjaga lidah agar tidak salah dalam membaca Al Qur’an. Jika kita salah dalam mengucapkannya, maka resiko yang paling besar adalah dapat merubah arti (lahn jali) dan menyebabkan dosa. Sangat berlainan bukan dengan niat membaca Al Qur’an itu sendiri?

Maka dari itu, mempelajari Al-Qur’an itu sangat lah wajib.  Seperti yang tertuang dalam perkataan Imam Ibnul Al Jazari :

“Membaca Al Qur’an dengan tajwid itu hukumnya wajib. Siapa yang tidak membetulkan bacaan Al Qura’annya berdosa. Karena Allah menurunkannya dengan tajwid. Dan demikianlah Al Qur’an dari-Nya sampai kepada kita”.

Lewat perkataan ini, normalnya ada beberapa pertanyaan yang musti kita tanyain ke dalam diri kita sendiri..
Apakah bacaan kita sudah sesuai tajwid?
Apakah kita sudah mengeluarkan hurus sesuai makhrajnya?
Apakah kita sudah memenuhi sifat2 huruf dan hukumnya?

Ya guys, Belajar membaca al quran tidak hanya sebatas saat kita masih kecil saja. So, jangan sombong dengan mengatakan bahwa kita sudah bisa membaca alquran. Ilmu itu luas guys.. banyak sekali ilmu-ilmu tentang cara membaca dan mempelajari Al Qur'an di luar sana.

Jangan sampai kayak saya waktu dulu.
Karena sewaktu dulu ketika di TPA, saya adalah orang yang sangat tidak suka dengan pelajaran tajwid. Karena menurut saya tajwid itu ribet, kalau ini ketemu ini jadi begini, itu ketemu ini jadi begini, males deh pokoknya.

Semoga kamu gak gitu ya..
Saya tidak sadar, bahwa ketidak sukaan itu tertanam dalam pikiran bawah sadar saya dan terus berlanjut hingga saya remaja.

Memalukan memang, mungkin diantara kalian ada yang beruntung sudah memahami ilmu tajwid sejak kecil. Tapi saya, sampai SMP pun saya masih sebal jika ada pelajaran tajwid, yang saya tahu sedikit. Meskipun tau cara membacanya, namun terkadang lupa namanya, dan bagaimana penjelasannya. Pokoknya saya gak suka, dan yaudah gitu aja.

Ya, tapi itu saya dulu.
Mungkin memang benar, benci dan cinta itu sangat tipis bedanya. Dan kecintaan itu pun berawal saat saya beranjak SMK. Saat itu mulai terbesit di hati saya ingin belajar tajwid, tapi masih agak males – malesan. Terkadang saya meminta diajarikan oleh mama saya, tapi karena mama saya ngejelasinnya ribet jadi saya tambah males, waduh.  *biasalah balada remaja

Tapi terbesit keinginan kuat ketika saya sering menonton program Tv Hafidzh Indonesia. Saya ingin menjadi seperti itu, saya ingin anak-anak saya juga seperti itu. Tapi ya timbul pertanyaan juga dalam hati saya, gimana bisa kayak gitu kalau saya sendiri aja macem begini (?) 
Bukankah seperti punuk yang merindukan bulan(?)

Akhirnya, mulailah saya melakukan pencarian mengenai tempat belajar membaca Al Qur'an, ada LTQ yang di jalan raya bogor, ada juga yang di kalisari, banyaklah pokoknya. Namun saya merasa masih kurang pas, karena lokasinnya terlalu jauh dari jangkauan kampus. (karena saya khawatir jadwal tahsin dan jadwal kuliah ada yang mepet)

Pencarian dilakukan cukup lama, sampai akhirnya saya di pertemukan oleh sebuah lembaga tahfidz Qur’an bernama Al Utsmani. Waktu itu LTQ tersebut baru membuka cabang di Bekasi, dan kebetulan lokasinya sangat dekat dengan kampus saya (tidak sampai 1 kilometer). Memang, Pucuk di Cinta Ulam pun Tiba *tsaah.

Akhirnya pada saat itu saya resmi menjadi murid di LTQ AlUtsmani Bekasi. Ketika itu saya telah berusia 19 tahun (saat sedang kuliah tingkat 2). Telat sekali bukan? Tapi seolah seperti kata pepatah, “Tak Pernah Ada Kata Terlambat Untuk Belajar” maka begitu pula dengan saya.

Saya juga mungkin sedikit malu, karena ustadzah yang mengajar saya ternyata umurnya sebaya dengan saya. Hanya saja beliau sudah hafal 30 juz sedangkan saya.. juz 30 aja belum semua hafal -_- haduhh. Meski demikian rasa malu itu menjadi cambuk bagi diri saya sendiri untuk lebih baik lagi.

Satu hal yang cukup membuat saya terkesan adalah, ada seorang ibu-ibu dimana usianya telah lebih dari 60 tahun. Namun ia sangat semangat, meski harus memulai dari awal program (level 1). Dia menegaskan bahwa dia tidak malu meski di level 1, karena niatnya adalah belajar.

Tentu, sebagai anak muda kata-kata itu sangat membakar saya. Saya tidak ingin kalah semangat dengan beliau. Namun sayangnya, baru 2 semester berjalan beliau (rahimahullah) sudah dipanggil oleh Sang Khalik. Semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.

Waktu terus berlalu, kini saya sudah 5 semester di LTQ tempat saya belajar. Saya sangat senang karena masih diberi kesempatan hingga saat ini untuk belajar disini. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda ingin bersama-sama mempelajari Al Qur'an dengan saya? Yuk, tunggu apalagi.. usia kita semakin hari semakin bertambah, malu sama Allah udah dikasih waktu hidup selama puluhan tahun masa baca Al Qur'an dengan benar aja gak bisa. *jleb

Yuk belajar membaca Al Qur'an, biar kita menjadi sebaik-baik manusia. 
Rasulullah Salallahu alaihi wassalam bersabda :
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)

Semoga Allah memudahkan saya dan kamu untuk menuntut ilmu di jalan-Nya. Dan semoga hati kita terpaut selalu kepada Al Qur’an. Aamiin.

Ayo teman-teman jangan lupa untuk terus mempelajari Al Qur’an, cara membacanya, maknanya, tafsirnya, dan jangan pernah puas dalam belajar.
Karena ilmu itu luas~


Sekian dulu ya, wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakaatuh

Teluk Kiluan adalah salah satu itinerary trip wajib saya selama berada di Lampung. Mengapa demikian? Karena spot ini terkenal dengan lumba – lumbanya. Sebelum berangkat saya googling dulu mengenai apa saja yang ada di Teluk Kiluan, ternyata spot lumba – lumba ini lah yang paling terkenal. So, harapan besar saya ketika datang ke teluk ini adalah bertemu lumba – lumba.

Saya berangkat dari Bandara Radin Inten II menuju Teluk Kiluan sekitar jam 2 siang. Tentu saya tidak sendiri, saya bersama ke dua patner trip saya yaitu Mba Shinta dan Pak Hendra, serta guide handal kami Pak Yopie. Menurut Pak Yopie, jarak dari Bandar Lampung ke Teluk Kiluan sekitar 80 Km, yang dapat ditempuh dalam waktu 3 jam. Kondisi jalan 80% baik, dan sisanya.. bisa dilihat sendiri nanti. Begitulah kata beliau.

Sebelumnya kami pun diingatkan bahwa di cottage yang akan kami tempati belum di aliri listrik, disanapun tidak ada sinyal, dan warung. So, ketika kami di Bandar Lampung kami mampir sebentar di mini market daerah Hanura, untuk membeli persediaan air minum dan makanan kecil. Sebenarnya setelah di pikir – pikir, membeli makanan kecil seperti ini tidak perlu terlalu berlebihan, karena disana pun penyedia cottage sudah menyediakan makan dan minum.

Selama  di perjalanan kami sempat berhenti – berhenti sebentar seperti untuk ke minimarket, berfoto di pinggir Pantai Klara, dan sholat ashar. Sehingga waktu yang kami butuhkan menjadi lebih dari 3 jam. Selama di perjalanan kami pun menikmati pemandangan yang sangat indah. Tapi sayangnya tidak bisa setiap pemandangan indah lalu berhenti untuk berfoto. So kenangan indah tersebut hanya bisa saya simpan dalam memori kenangan yang indah saja, ciaa.

Potret keindahan Pantai Klara dari pinggir jalan

Setelah melewati jalan yang bisa dibilang cukup mulus, mulailah kami mengalami sedikit guncangan – guncangan. Mungkin inilah 20 % yang di bilang Pak Yopie tadi. Estimasi 20 % pun tidak full seluruhnya buruk, jadi ada sebagian jalan rusak, lalu bagus, lalu ada yang rusak lagi, lalu bagus lagi, dan seterusnya.

Kondisi jalan yang cukup mulus

Kondisi jalan yang becek dan berlubang

Namun menurut beliau jalan ini sudah lebih baik dibanding dulu, kini jalan menuju Teluk Kiluan sudah banyak yang diperbaiki pemerintah provinsi. Selama di perjalanan, saya pun melihat jalan yang sedang dicor beton tapi baru sebagian. Oya, jalan menuju Teluk Kiluan mungkin akan cukup sulit bagi Anda yang kurang mahir dalam menyetir mobil, dan yang penting lebih baik jangan membawa mobil jenis sedan kemari.

Karena sebagian jalan berlubang, becek serta licin, dan sebagian lagi merupakan jalan berbatu. Ketika jalan berbatu pun jalanannya mulai menanjak. Rasanya seperti menaiki gunung (walaupun entah gunung entah bukit), tapi yang jelas menurut saya lumayan susah nyetir mobil disini (terutama untuk saya yang gak bisa nyetir). 

Kondisi jalan berlubang dan berbatu

Meskipun jalan rusak dan kami terguncang – guncang, tapi kami melihat bulan yang indah sekali. Mobil pun berhenti sebentar untuk mengabadikannya. 


Salamku untuk sang rembulan

Setelah melewati jalan berbatu tadi, sampailah kami di gapura Teluk Kiluan. Kami datang diwaktu yang cukup sore (sekitar jam 5), sehingga  langit tidak terlalu cerah untuk berfoto. Tapi dari sini kami sudah bisa melihat keindahan Teluk Kiluan yang waaww.

Gapura Teluk Kiluan

Setelah masuk gapura, jalan kembali mulus dan kami pun menemukan beberapa kampung seperti kampung Bali dan kampung Sunda. Sesuai dengan namanya, disini saya dapat melihat banyak rumah khas daerah – daerah tersebut. Akhirnya sampailah saya di Dusun Bandung Jaya, ketika itu langit sudah mulai membiru pekat. Mobil kami pun parkir di salah satu lahan milik warga, dan kami melanjutkan perjalanan menuju cottage dengan perahu kecil/jukung.

Kondisi ketika itu cukup gelap, bahkan sangat gelap ketika berada di tengah lautan. Sehingga saya tidak bisa mengabadikan momen tersebut. Sebagai gantinya, saya hanya menikmati momen berada ditengah lautan yang gelap gulita. Semilir angin, aroma laut, dan gelombang yang membuat jukung kami bergoyang, membuat perjalanan saya terasa semakin menyenangkan.

Sesekali kami juga melihat jukung lain yang digunakan untuk mencari ikan, ada yang tidak menggunakan lampu (seperti jukung kami), dan ada juga yang menggunakan lampu. Dari kejauhan kami melihat sebuah tempat yang lebih terang karena terdapat lampu, dan disanalah cottage kami. Meskipun belum dialiri listrik, namun penyedia cottage menyediakan genset yang hanya digunakan saat malam. So, saya ga perlu takut akan gelap – gelapan disini. Hihi


Cottage di Anjungan Tamong Haji

Cottage yang saya tempati pun terbilang cukup luas, terdapat ruang tamu, kamar mandi di dalam, dan 2 kamar tidur ( 1 kamar berisi 1 bed, dan 1 kamar lagi berisi 2 bed). Meskipun sederhana, tapi menurut saya tempat ini cukup nyaman. Setelah merapikan barang bawaan dan membersihkan diri, kami pun disuguhkan makan malam.

Makan malam kali ini bermenu nasi hangat, kangkung, ikan lemadang bakar yang wow besarnya, sambal, kerupuk, dan air putih. Makan malam ini sederhana, tapi sungguh terasa nikmat. Kami pun merasa senang karena ikan lemadang ini sangat enak.

Ikan lemadang yang besarnya lebih besar dari piring ukuran besar

Kami kenyang, kami senang

Setelah makan malam, kami pun duduk – duduk di pinggir pantai untuk sekedar ngopi/ngeteh. Suasana malam di pinggir pantai cukup gelap, namun angin  dan suara deburan ombak yang cukup kencang, membuat suasana malam begitu syahdu. Setelah cukup malam, kami pun memutuskan untuk beristirahat karena besok pagi – pagi akan melanjutkan misi utama, yaitu mencari lumba – lumba.

Keesokan harinya jam setengah 6 kami sarapan, menu sarapan kali ini adalah nasi uduk hangat, gorengan, sambal, kerupuk, dan teh hangat. Hmm, nikmatnya.. Setelah sarapan kami langsung bersiap menuju perairan laut lepas menggunakan perahu kecil yang biasa disebut jukung/ketinting.

Bersiap menggunakan jukung

Meskipun perahu ini kecil dan ramping, namun nyatanya perahu ini cukup tangguh. Tidak perlu khawatir saat menggunakan jukung ini, ujung jukung yang lancip berfungsi untuk membelah gelombang. Sehingga bisa dikatakan kapal ini lebih aman untuk menuju laut lepas, di banding perahu motor yang berukuran sedikit lebih besar.

Untuk menuju perairan laut lepas, jukung tidak boleh di naiki lebih dari 3 penumpang, maksimal jukung dinaiki oleh 4 orang (3 penumpang dan 1 pengemudi). Karena kami ber-4 maka kami menggunaan 2 jukung, saya dengan Pak Hendra, sedangkan Mba Shinta dengan Pak Yopie. Saya sengaja duduk di paling depan untuk merasakan sensasi gelombang yang lebih terasa. Perjalanan pun dimula!

Ready and go!

Benar saja, duduk paling depan menggunakan jukung bisa dibilang sangat seru. Gelombang yang membuat perahu bergoyang pun membuat saya sedikit kesulitan saat menggunakan kamera. Sesekali saya melihat ombak memecah bebatuan karang yang sangat indah. Setelah melaut sekitar 30 menit sampailah kami pada tempat dimana lumba – lumba sering muncul. Jukung kami mulai berjalan pelan.

Setelah beberapa saat saya mulai menengok kesana kemari dengan harapan melihat lumba – lumba. Kamera baru saja dinyalakan, sambil mengarahkan kamera ke arah depan, pak Hendra dan pengemudi perahu teriak “Itu..itu..” saya hanya berkata, “mana.. mana..?” sambil kamera di arahkan entah kemana. Ternyata ada lumba – lumba disebelah kanan tapi saya tidak melihatnya. Haduh, payah juga ya saya.

Kemudian saya fokus memperhatikan sebelah kanan (tempat lumba – lumba tadi), di sebrang kanan pun terdapat jukung wisatawan yang juga sedang mencari lumba. Saat saya sedang memandang ke arah kanan, orang-orang yang berada di jukung sebrang kanan saya tiba – tiba berteriak. “Aaaaa!” sambil nunjuk ke arah jukung yang saya gunakan.

“Itu mega...” Kata Pak Hendra, ternyata lumba – lumba nya ada di sebelah kiri jukung saya, yang kata Pak Hendra dekat sekali dengan jukung kami. Haduuuh, sedih banget nih saya belum bisa liat lumba – lumba langsung padahal orang lain udah teriak – teriak.

Akhirnya mata saya siap siaga, menengok ke arah depan, samping kiri, samping kanan, dan juga sesekali belakang. Kamera stand by siap memotret jikala lumba – lumba itu datang. Yak! Itu dia lumba – lumbanya! Berada sedikit jauh di depan serong kanan saya, tapi pas saya baru mencet tombol shutter, eh ternyata dia udah hilang duluan. Duh, ternyata susah juga ya mau foto lumba – lumba.

Gagal bidik dia (lumba-lumba)

Beberapa kali saya melihat sirip lumba – lumba yang muncul ke permukaan, namun sayangnya kamera saya tidak secepat gerakannya. Saya pun tidak melihat ada lumba – lumba yang loncat ke permukaan, hanya siripnya saja. Akhirnya saya harus puas dengan tidak mendapatkan satupun foto lumba – lumba. Tapi untungnya Mbak Shinta dapat videonya, dan Pak Yopie dapat foto yang cantiiik banget (wajar karena beliau adalah fotografer). Kalau Pak Hendra (?) Hmm, jangan ditanya karena kameranya mati ketika di perjalanan, wkwk.


Sedikit sedih memang, namun karena ini adalah lumba – lumba di alam liar, tak ada satupun yang bisa menjanjikan pasti bertemu. Bisa dikatakan ini adalah soal keberuntungan, ada yang melihat ratusan, ada yang melihat hanya beberapa, dan bahkan ada yang tidak melihat sama sekali. Maka kami cukup bersyukur bisa bertemu lumba – lumba meskipun mereka agak sedikit malu – malu.

Menurut Pak Yopie, beliau pernah satu kali melihat ratusan bahkan ribuan lumba – lumba. Cuaca pun tidak bisa di predikisi, karena Pak Yopie melihatnya ketika sedang gerimis. Saya sendiri hanya bisa membayangkan bagaimana jika melihat lumba – lumba penuh di samping kiri, kanan, depan dan belakang. Pasti takjub luar biasa.

Kami pun bergegas kembali. Saat perjalanan pulang, kesedihan saya sedikit terobati karena pengemudi jukung kami berjalan sedikit mendekat pesisir teluk. Sehingga saya bisa melihat jelas ombak yang menghempas bebatuan di pesisir. Indaaah banget, sepertinya pengemudi jukungnya mengerti perasaan sedih saya. Gak ada sedikit pun perasaan sesal buat dateng ke Kiluan, yang ada mau balik lagi.


Indahnya Teluk Kiluan

Mungkin untuk bertemu lumba – lumba disini tak cukup hanya sekali datang, tapi harus berkali – kali. Semoga saya bisa berkesmpatan berkunjung lagi kemari, dan tentunya membawa kamera yang 1 detik bisa 4 kali foto biar gak kehilangan moment. Hihi.
Lumba – lumba! See you next!
Pada suatu malam, saya sedang menuju ruang tamu untuk membaca buku kemudian saya berduduk sila di bangku tersebut. Saya melihat adik saya yang baru kelas 5 SD sedang asik melakukan sesuatu. Saya pun bertanya,

Saya : dadan, lagi ngapain?
Adik : Lagi gambar teh (teteh panggilan adik saya untuk saya)
Saya : Gambar apa?
Adik : Cowny sama Brown
Saya : Ngapain gambar gituan? Buku buat besok udah diberesin?
Adik : Udah kok tadi..
Saya : Oh, yaudah. Lanjutkan

** Dadan OTW Gambar**
** Saya baca buku**

Adik : Teh, Dadan boleh gambar teteh ngga?
Saya : Boleh..
Adik : Diem ya teh, jangan bergerak

** Dadan OTW Gambar**
** Saya baca buku**

Saya : Udah belum Dan?
Adik : Belum sabar ya teh

** Dadan OTW Gambar**
**saya garuk – garuk**

Adik : Teteh ! Jangan gerak ! *sambil marah*
Saya : Oiya maaf maaf

**saya garuk – garuk lagi**

Adik : Teteh ! Dibilangin jangan gerak ! *sambil marah lagi*
Saya : Oiya maaf maaf

** Dadan OTW Gambar**

Saya : Dan, udah belom si. Kok lama banget?
Adik : Iya teh sebentar lagi, sabar ya..

** Dadan OTW Gambar**

Adik : Teteh kakinya jangan sila dong, turunin kebawah Dadan gak bisa gambar kakinya.
Saya : Yah, masa gitu aja gak bisa. Harus bisa dong..
Adik : Ih teteh..! dadan gak bisa

** Saya nurunin kaki**

Saya : Dan, udah belom? Dari tadi gak selesai – selesai..
Adik : iya ya teh, sabar ya.. ini gambarnya udah jadi

** Dadan ngasih kertas**
**Pas diliat**


Saya : Huaaa Dadaaaaaan !! Kok kayak gini gambarnya!!


**marah sambil ngakak**

Adik : Maaf ya teh. abis dadan gak bisa gambar idungnya.
Saya : --_____________________--
kirain gambar lama – lama hasilnya bagus *dalam hati*




Teruntuk kawanku,
Entah, apakah mungkin ini adalah yang terakhir kali
Aku  bahkan tak bisa berjanji untuk menemui lagi esok atau nanti
Kalau pun aku berjanji, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti

Sekali lagi,  Mungkin ini adalah yang terakhir kali
Kita bertemu disini, dan juga harus berpisah ditempat ini
Bukan waktu yang berdosa karena memisahkan kita
Tapi memang karena telah habis masanya bagi kita untuk berbagi cerita

Bagaimana mungkin, aku bisa melupakan mu dengan mudahnya setelah sekian lama kita bersama. 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Namun, bukan pula waktu yang teramat lama

Esok, mungkin aku akan terus memikirkan mu. Mungkin segalanya akan terasa hampa jika kau tak ada, karena kita terlalu sering bersama

Setahun berikutnya, mungkin aku akan selalu merindukan saat – saat bersamamu. Namun, saat itu mungkin aku telah mulai  terbiasa, karena kita telah jarang berjumpa

Beberapa tahun kemudian, mungkin aku sudah tak tahu lagi bagaimana kabarmu
Dan mungkin aku hanya akan menganggapmu sebagai ‘TEMAN LAMA’

Sayangnya,
Sebuah cerita hanya tercipta dalam satu masa
Tak akan ada lagi cerita yang persis sama dalam masa lainnya
Setiap hari, memiliki kisahnya tersendiri
Dan hari yang kumiliki saat bersamamu, mungkin tak akan terjadi lagi

Kawan,
Maaf untuk perkataanku yang pernah membuat hatimu terluka
Aku tak pernah tahu, jika candaan itu membuatmu menitikan air mata. Aku sama sekali tak berniat membuatmu terluka

Maaf untuk tingkah laku ku yang sering membuatmu geram,
Maaf juga untuk aku yang sering menyusahkanmu
Maaf untuk aku yang kadang tidak menepati janji
Maaf untuk aku yang pernah meninggalkanmu ketika engaku sedang kesusahan
Maaf jika kadang aku tak selalu ada untukmu

Tak ada kata selain maaf yang bisa ku ucapkan saat ini
Berharap kelak kau mau memaafkan semua yang telah terjadi pada kita
Melupakan kejadian buruk diantara kita, tapi tidak untuk kenangan indah kita
Tidak juga untuk persahabatan kita

Terima kasih untukmu,
Untuk kesetia kawanan mu, untuk kesabaranmu, untuk keikhlasanmu, dan untuk kebaikanmu yang mungkin tak dapat ku balas.

Akhirnya, telah sampailah kita pada penghujung masa
Dimana aku dan kamu mungkin tak dapat lagi bersama
Dimana kata aku dan kamu mungkin akan sulit lagi menjadi kita
Dimana kata kita hanya akan berada kenangan yang melekat dalam ingatan

Kawan, sejujurnya aku mulai khawatir
Aku khawatir jika dunia luar terlalu dingin, sehingga aku takut tak akan menemukan lagi persahabatan sehangat saat kita bersama

Aku khawatir jika dunia luar terlalu kejam,  sehingga aku mungkin takut untuk menghadapi dunia tanpa kau disisiku
Tapi kawan
Aku tak mungkin memintamu untuk selalu berada disisiku, untuk selalu bersamamu
Kau memiliki impian, dan cita – citamu sendiri

Baik, mungkin ini adalah masa yang akhir bagi kita untuk selalu bersama
Tapi berjanjilah bahwa ini bukan yang terakhir
Semoga kau bahagia ditempat barumu, sahabatku.


-m.s.h
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Bayi Botol
  • Ujian.. oh.. Ujian..
  • Tentang Pacaran
  • The Best
  • Tanda Cinta untuk yang Tercinta - Bag.2
  • Tanda Cinta untuk yang Tercinta - Bag.1
  • Berbicara Tentang "CINTA"
  • Pendakian Merbabu Via Suwanting
  • Tentang Mengingat Allah
  • Aku tak bisa menjelaskannya

Categories

  • Ceritanya Mega 12
  • Days Writing Challenge 11
  • Opini 10
  • Puisi 18
  • Traveling 13

Advertisement

Contact form

Nama

Email *

Pesan *

Profil

Mega Teduh
Assalamu'alaikum warahmatullahi waabarakaatuh. Halo perkenalkan saya mega, selama datang di blog saya yang sederhana ini. Keseharian saya bekerja di bidang laboratorium, dan sempat menjadi content creator di bidang traveling. Untuk saat ini saya hanya menulis untuk diri saya sendiri, dan tulisan saya meliputi perjalanan wisata dan perjalanan kehidupan. Selamat menikmati
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

  • ▼  2026 (2)
    • ▼  Mei (1)
      • Life update
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2024 (2)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2023 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2020 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (3)
  • ►  2017 (15)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2014 (11)
    • ►  November (1)
    • ►  Juni (10)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2012 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)
Diberdayakan oleh Blogger.
  • Beranda
  • My Traveling
  • Days Writing Challenge
  • Ceritanya aku
  • Puisi
  • Opini

Popular Posts

  • Cerita Hari Ini
  • Spill Budget Pendakian Rinjani
  • Jadi, kapan nikah?
  • My First Seven Summit ~ Mount Rinjani 3726 mdpl

Profil Saya

Assalamu'alaikum warahmatullahi waabarakaatuh. Halo perkenalkan saya mega, selama datang di blog saya yang sederhana ini. Keseharian saya bekerja di bidang laboratorium, dan sempat menjadi content creator di bidang traveling. Untuk saat ini saya hanya menulis untuk diri saya sendiri, dan tulisan saya meliputi perjalanan wisata dan perjalanan kehidupan. Selamat menikmati
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

  • ▼  2026 (2)
    • ▼  Mei (1)
      • Life update
    • ►  Januari (1)
  • ►  2025 (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2024 (2)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Agustus (1)
  • ►  2023 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2022 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2021 (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2020 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (3)
  • ►  2017 (15)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (11)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2016 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2014 (11)
    • ►  November (1)
    • ►  Juni (10)
  • ►  2013 (7)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2012 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (1)

Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi