Tentang perjalanan, perasaan, dan kehidupan

Kamis, 17 Agustus 2017

Perempuan dan Emansipasi

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh

Selamat hari kartini untuk seluruh perempuan di Indonesia 😚😚😚
Yap
Siapa itu Ibu Kartini? Ibu Kartini adalah seorang perempuan yang luar biasa, yang memberi pengaruh besar di Indonesia khususnya bagi kaum perempuan.

Tentunya saya gak perlu menceritakan panjang lebar mengenai sejarah hidup Ibu Kartini, saya yakin kalian pasti juga sudah tahu. Saya hanya bisa bersyukur karena saya lahir di zaman setelah beliau lahir. Karenanya saya bisa bebas bersekolah, kuliah, dan bekerja.

Tapi, bukan itu yang ingin saya utarakan di tulisan saya. Saya tidak ingin menulis mengenai kehebatan yang bisa di lakukan perempuan di zaman ini. Saya juga tidak ingin mengeluh-eluh kan perjuangan kaum feminis untuk kesetaraan gender. Karena sejatinya perempuan dan laki – laki itu memang berbeda.

Saya bukan tidak menghargai para perempuan yang memperjuangkan emansipasi wanita seperti Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, dan para perempuan hebat lainnya. Hanya saja, saya khawatir.
Emansipasi sekarang ini sudah terlalu berbeda.

Setidaknya menurut saya (atau mungkin saya salah), emansipasi yang diperjuangkan oleh para pendahulu adalah kebebasan untuk meraih pendidikan, agar para perempuan mendapatkan hak yang sama dengan laki laki dalam pendidikan, dan tidak terjebak dalam kebodohan. Karena para perempuan yang cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas pula, dan karena perempuan adalah pembangun peradaban.

Tapi lihatlah kini. Emansipasi yang kini digadang – gadang adalah perempuan dapat menyaingi laki – laki dalam segala hal. Terlebih dalam segi profesi. Kini satpam tak melulu laki – laki, kini perempuan pun bisa menjadi pemimpin, dan kini bang g*jek pun tak harus laki – laki.

Teringat ketika beberapa minggu yang lalu ketika saya sedang perjalanan pulang dari tempat saya bekerja. Saya melihat seorang ibu sedang mengendarai motor, mungkin usianya diatas 40 tahun dan dia adalah seorang driver ojek online. Hati saya begitu terenyuh, perih sekali rasanya. Hal apakah yang membuat seorang ibu – ibu berusia paruh baya harus menjadi seorang tukang ojek. (Semoga Allah memudahkan urusannya)

Sejujurnya di tempat saya bekerja pun, (atau tenaga kesehatan secara umum) populasi perempuan sangatlah mendominasi. Sedangan kaum lelaki hanya menjadi kaum minoritas.

Kini semua mata bisa melihat, ada perempuan dimana – mana. Mereka bekerja membanting – banting tulang dari pagi buta hingga sore, pun ada yang bekerja hingga larut malam. Semua mata pu melihat para perempuan berdesakan, baik di bus kota maupun di jalan raya. Mereka bertarung dengan kerasnya kehidupan kota, yang sangat riskan bagi kelembutan dihatinya.

Lihatlah anak – anak yang kehilangan ibu-ibu mereka, ibu yang berpendidikan tinggi pun harus merelakan anaknya untuk di didik oleh orang lain. (yang mungkin pendidikannya lebih rendah darinya)
Lihatlah anak remaja yang haus akan kasih sayang, mereka berkeliaran tanpa pengawasan. Kemanakan perginya orang tua mereka (?)

Bukankah menjadi sangat wajar, jika tingkah laku seorang anak kian kemari sangat memprihatinkan.

Pada akhirnya, semua mungkin berasal dari banyaknya perempuan yang memutuskan untuk pergi dari rumahnya, dengan alasan membantu mencari tambahan. Pertanyaannya, siapakah yang lebih wajib mencari nafkah?
Adakah para perempuan lupa tentang kewajibannya sendiri?
Dan, apakah para perempuan lupa siapakah yang memberinya rezeki?
Pekerjaannya, ataukah Tuhannya?

Pada akhirnya, kebanyakan perempuan memutuskan untuk pergi dari rumahnya.

Entah mengapa,
Zaman ini, kebanyakan orang menganggap rendah perempuan yang tetap dirumah dan mengurus anak-anaknya.  Mereka lebih mengapresiasi perempuan yang lelah bekerja diluar rumah dan menganggap remeh perempuan yang lelah mengurus rumah tangga.

Padahal menurut saya tidak demikian. Jika saya sedang liburan, atau jika ibu saya sedang tidak di rumah. Saya melakukan apa yang beliau lakukan dan rasanya sangat melelahkan. Dan saya tahu, menjadi ibu rumah tangga adalah profesi  yang sangatlah luar biasa. Terlebih, sebagai seorang anak pun saya merasakan kasih sayang yang sangat melimpah.

Hanya karena para ibu di rumah tidak menghasilkan uang, seringkali mereka di anggap remeh. Mengapa bisa demikian?
Mungkin karena kebanyakan orang masih menilai, bahwa rezeki itu dari pekerjaan dan rezeki itu berupa uang.

Lalu bagaimana seharusnya saya dan Anda harus bersikap? Entahlah, saya pun masih mencari jawabannya.

Meski paham saya bertolak belakang dengan kaum feminis, tapi saya akui saya adalah seorang gadis biasa dan saya adalah seorang pekerja. Berhimpitan dengan hiruk pikuk ibukota adalah alasan klasik demi mengamakan ilmu dan menyenangkan hati kedua orang tua saya.

Adapun dari dalam hati kecil saya, saya hanya ingin menjadi hamba yang patuh pada RabbNya, dan anak yang berbakti kepada orang tua. Semoga Allah memberikan saya jalan yang lebih baik dari pada ini. Aamiin

Sekian~

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Read More

Jumat, 26 Mei 2017

Serba Serbi Wisuda (Ala Muslimah) Bag.3

Setelah membahas mengenai pakaian dan riasan wajah. Masih ada beberapa pembahasan selanjutnya nih.

Pembahasan ke-tiga yaitu mengenai sepatu.
Source : pixabay.com

Sebenarnya ini lebih cocok masuk dalam pembahasan pakaian, namun karena pembahasan tersebut sudah terlalu panjang jadi saya pisah. Memangnya ada apa dengan sepatu?

Mayoritas wisudawati akan menggunakan sepatu high heels atau wedges. Memang mungkin tidak ada batasan mengenai tinggi hak sepatu. Tapi saran saja agar tidak menggunakan sepatu yang terlalu tinggi, maksimal 7 cm. Karena jika terlalu tinggi akan membahayakan diri kita sendiri ketika menuruni tangga setelah pengukuhan.

Bagus kalau nggak papa, tapi kalau keserimpet minimal ya terkilir itu kaki. Jadi ya.. jangan tinggi-tinggi ya kalau beli. Apalagi buat kamu yang gak suka pake high heels atau wedges, pastiin kalau itu bakal kamu pake lagi. Jangan beli tapi dipakenya buat wisuda doang :D (Pengalaman)
Nanti tu sepatu keburu lapuk dimakan usia, kayak cinta kita~ *heleeh

Lanjut,
Ke-empat mengenai pendamping wisuda. *eaeaea

Karena undangannya hanya untuk dua orang, jadi kalian cukup membawa kedua orang tua kalian saja. Gak perlu ngajak kakek nenek, paman bibi, adek kakak, apalagi tetangga. Karena kasian guys, mereka gak akan boleh masuk dan ujung-ujungnya mereka hanya nunggu di parkiran. Wisuda itu lama loh, apalagi kalau wisudawan/wisudawati nya banyak. Yang di dalem gedung aja lelah nunggunya.

Oya ada satu hal yang saya perhatikan nih, karena wisuda adalah momentum bahagia seluruh mahasiswa. Terkadang mereka terlalu serius dengan teman-temannya dan lupa dengan orang tuanya. Selalu ada saja wisudawan/wisudawati yang asik berfoto ria dengan teman-temannya, dan membiarkan orang tuanya menunggu lama~ sekali.

Kalau menurut saya sih, tidak tepat jika ketika wisuda kita berfokus kepada teman. Memang sih mungkin itu salah satu momen bahagia, sekaligus  bisa jadi perjumpaan terakhir bersama teman.

Tapi ya bayangin aja yang nyekolahin siapa yang ngasih jajan siapa. Pas udah wisuda eh dia malah asyik ama temennya sendiri. Bukannya banyak sujud syukur dan terima kasih ama orang tua karena udah di sekolahin.

Jadi inget guys, nant kalau wisuda jangan biarin orang tua kita nunggu lama setelah acara wisuda selesai. Kasihan mereka, peka dikit lah jadi anak. Jangan lupa banyak-banyak terima kasih sama mereka.

Yang terakhir adalah megenai foto wisuda serta merchandisenya
Yang namanya foto wisuda resmi dari EO yang kerja sama dengan pihak kampus, itu pasti ngantriiiiiii banget. Solusinya kalau gak mau ngantri ya foto di luar gedung, atau foto studio ditempat lain.

Kalau kalian punya kamera, bisa juga pakai kamera sendiri, lebih irit dan gak ribet. Tapi jangan lupa tag-in orang buat motoin kamu dan orang kesayangan kamu. Hoho

Kalau soal merchandise, biasanya sih pihak EO nawarin paket-an gitu bareng sama sesi foto. Ada yang foto doang, ada yang plus video wisuda, ada juga plus semacam piala (apalah itu namanya), bahkan paket yang paling lengkap ada plus payungnya juga lho.

Nah kalau ada pilihan kayak gitu, kalian mau milih paket yang mana guys? saran saya sih, ya.. pilih sesuai kebutuhan aja. Kalau emang sekiranya gak butuh, ya gak usah. Jangan terlalu konsumtif ah jadi orang, gak baik tau^^

Okeh,
Cukup sekian ulasan mengenai serba serbi wisuda ala muslimah.
Mohon maaf jika ada yang tersinggung dengan apa yang saya tuliskan.


Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh
Read More

Kamis, 25 Mei 2017

Serba Serbi Wisuda (Ala Muslimah) Bag,2

Setelah membahas lengkap mengenai pakaian, maka bahasan yang kedua adalah riasan wajah (make up).

Source : vemale.com

Wisudawati memang disarankan untuk ber-make up agar tidak terlihat pucat atau kusam ketika difoto. Minimal pakai bedak dan lip stick. Namun untuk kalian yang tidak ingin menggunakan make up, tidak masalah kok. Dan untuk kalian yang ingin menggunakan make up, baik make up sendiri atau menyewa jasa MUA,  silahkan.
Yang penting dandannya jangan berlebihan.

Kalau saya sih sebenarnya menyarankan, kalau bisa make up sendiri ya mending make up sendiri aja. Biar lebih sederhana dan terlihat lebih natural. Lagi pula kita ga perlu kan make up sampe bikin pangling, emang mau dilihat siapa sih? *eaa

Kalau saya pribadi, karena disuruh ibu saya dandan dan saya gak bisa dandan, jadi weh terpaksa minta dandanin sama bibi tukang MUA. Meskipun harus berkali-kali protes seperti; bedaknya ketebelan lah, kok dipakein alis lah, gak mau dipakein ini, gak mau dipakein itu. Sampe sampe bibi vera nya bilang “Mega, protes mulu. Lama lama lu gua pakein yang buat penganten juga nih.” *logat betawi
Hehe, yah untung aja MUA nya sodara sendiri, kalau bukan bisa digorok kali saya.

Ya guys, selain penggunaan pakaian yang menutup aurat, jilbab yang tidak membentuk punuk onta, penggunakan riasan wajah juga  harus di perhatikan.

Yang paling saya wanti-wanti adalah jangan sampai menggunakan bulu mata palsu. Karena hukum menggunakan bulu mata palsu itu sama dengan hukum menyambung rambut.

Tau hadistnya? Kalau belum, cari sendiri ya~

Terus cara nolaknya gimana kalau mau dipakein sama mbak2 MUA? Ya, kalau takut tersinggung jika menggunakan dalil, kan bisa cari alesan sendiri. Seperti “Ga enak ah, ga biasa.” “Gak mau ah, berat.”  atau jawaban yang bikin MUA males maksa lagi adalah “Gak ah, gak mau aja”. Haha itu adalah jawaban yang bikin orang kesel.

Itu aja sih yang penting untuk riasan wajah saat wisuda, gak dandan berlebihan dan gak menggunakan bulu mata palsu. Karena sebenarnya, Asy-Syaikh Ibnu Bag Rahimahullah berkata :
“Boleh seseorang mempercantik diri dengan celak pada dua matanya (eyeshadow, eyeliner dan semacamnya), saat ia bersama para wanita, suaminya, dan mahramnya. Adapun saat ada lelaki asing, maka ia tidak boleh membuka wajahnya dan kedua matanya yang dihiasi celak tersebut” Al Fatwa 10/58

Tapi karena saya belum bisa mempraktikannya, jadi saya hanya memberitahu yang saya lakukan dan fatwa yang sebenarnya. Karena Allah membenci seseorang yang mengatakan apa yang tidak ia lakukan. Jadi jika kalian ingin menggunakan make up silahkan, dam jika tidak ingin menggunakan make up tentu akan lebih baik lagi.


Okeh, itu saja mengenai pembahasan mengenai riasan wajah. Masih ada pembahasan selanjutnya tentang serba serbi wisuda kok. Nantikan besok ya^^
Read More

Rabu, 24 Mei 2017

Serba Serbi Wisuda (Ala Muslimah) Bag.1

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.
Hallo sahabat, yang kebetulan mampir atau memang sengaja mampir di blog saya hehe. Terima kasih sebelumnya karena sudah berkunjung *salaman*

Well, langsung aja ke topik pembahasan saya kali ini mengenai serba serbi wisuda. Kenapa wisuda? Karena saya sudah pernah mengalaminya (walaupun baru sekali sih hehe). Dan kenapa harus ada muslimahnya? Ya, karena saya perempuan. Jadi tulisan ini cocok dibaca untuk para perempuan muslim yang mau dan akan di wisuda.

Wisuda, adalah sebuah momen yang paling ditunggu – tunggu oleh semua mahasiswa. Ya,, mungkin bisa dibilang begitu. Lagipula, kira – kira ada nggak ya mahasiswa yang gak mau di wisuda(?) Hmm..

Source : ramadhanlmzero.blogspot.com

Oya, kalau saya perhatiin, banyak banget orang yang suka masang status; wisuda 2018, wisuda 2020, dst.. Sehingga seakan – akan (menurut saya) hal tersebut menjadikan wisuda sebagai tujuan. Memang hal tersebut tidak sepenuhnya salah, namun pesan saya

“Lakukan saja yang terbaik selagi menjadi mahasiswa, hadapi saja apa yang di depan mata, dan nikmati saat-saat menjadi mahasiswa. Kalau sudah waktunya, kita juga akan di wisuda kok.”

Ya.. wisuda itu memang masalah waktu dan juga usaha sih pastinya. Jadi kalau sekiranya wisuda masih lama, ya sabar aja. Gak usah ditungguin. Nanti juga dateng sendiri kok, kaya jodoh aja gitu~ *eaa

Oke sip, lanjut dengan persiapan untuk wisuda buat muslimah nih. Khusus muslimah ya, jadi untuk yang cowok mohon maaf tak ada tempat untukmu.
So, persiapan apa sih yang di siapin buat yang mau wisuda (?)

Pertama, Pakaian.
Karena kita para ciwi-ciwi wajib menggunakan kebaya, jadi jangan lupa untuk menggunakan kebaya. Kebayanya gak mesti beli, kayaknya sewa juga bisa deh. Kalau kalian mau beli atau bikin, pastikan kalau itu memang akan dipakai lagi untuk kondangan atau wisuda selanjutnya dalam waktu dekat. Karena sayang kalau udah beli/bikin, tapi ternyata cuma dipake sekali aja. (pengalaman) hehe

Tips memilih kebaya juga harus diperhatikan nih. Kebaya untuk wisuda itu gak perlu motif yang cantik-cantik amat dan harga yang terlalu mahal. Soalnya percuma, bakal ketutupan juga sama toga. Jadi ya simpel aja, yang penting nutupin aurat.

Inget ya nutupin AURAT ! Terlebih tangan dan kaki. Karena pada waktu wisuda, ada seorang fulanah berjilbab, tapi bagian depan roknya itu terangkat sampai setengah betis, Saya tidak mengerti apakah memang modelnya demikian atau dia lupa berkaca mengenai roknya yang ‘ketinggian’. Tapi inget guys, seperti apapun modelnya, aurat tetaplah aurat. Dijaga baik-baik ya..

Setelah memilih dan menggunakan kebaya, masih ada jilbab nih yang masuk kategori pakaian. Mungkin untuk kalian yang sedikit lagi mau wisuda udah mulai kepikiran, “nanti wisuda jilbabnya mau di gimanain ya?” hehe, betul nggak?

Kalau masalah jilbab sih, ya itu mah teserah kalian aja sih, yang penting syaratnya dua. Pertama kita harus nyaman, kedua gak ngebentuk punuk onta.

Yup. Kalian pasti pernah liat kan seorang hijaber yang benjolan kuncirannya sangat besar sampai terlihat seperti punuk onta?
Nah, kalau bisa kalian jangan seperti itu ya guys. Selain dilarang, pakai benjolan yang sebesar itu juga kayanya gak akan bikin kamu nyaman, dan yang pasti nyusahin pas mau pake topi toga.

Dan terakhir dalam kategori pakaian adalah, kaos kaki. Yup, jangan lupa kalau kaki itu adalah aurat. So, buat kamu muslimah wajib hukumnya pakai kaos kaki.

Cuma sampai segitu? Enggak kok, masih ada kategori yang lainnya.

Tunggu tulisan saya yang selanjutnya besok ya^^
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Profil

Foto saya

Saya ingin menjadi gadis sederhana dengan iman yang luar biasa

Tweet

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © Megazone | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com